Profil PT Geo Dipa Energi (Persero)
PT Geo Dipa Energi (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Kementerian Keuangan yang khusus bergerak dalam eksplorasi, eksploitasi, dan pemanfaatan panas bumi (geothermal) untuk pembangkit listrik yang berkantor pusat di area Kecamatan Pancoran Kota Jakarta Selatan Provinsi DKI Jakarta.
Didirikan sejak 5 Juli 2002, Geo Dipa dibentuk sebagai usaha patungan (joint venture) antara PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) untuk mengelola aset negara berupa pembangkit listrik tenaga panas bumi, terutama di proyek Dieng (Wonosobo) dan Patuha (Ciwidey).
Sebagai bagian dari Special Mission Vehicle (SMV) di bawah pembinaan dan pengawasan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Geo Dipa berfungsi sebagai instrumen fiskal pemerintah untuk mendorong transisi energi bersih dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Hingga akhir tahun 2026, Geo Dipa tetap dipertahankan sebagai SMV di bawah naungan Kementerian Keuangan guna memperkuat ekosistem ekonomi hijau nasional melalui instrumen fiskal. Perusahaan menargetkan kapasitas pembangkitannya tumbuh bertahap menuju target jangka panjang 1 GW. Untuk mendanai kebutuhan ekuitas ekspansinya, Geo Dipa mengkaji opsi penerbitan surat utang global (global bond) yang direncanakan meluncur pada akhir 2027 atau awal 2028.
Kegiatan Usaha & Operasional
Kegiatan bisnis utama Geo Dipa mencakup seluruh siklus pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP):
- Eksplorasi dan Eksploitasi: Mencari dan mengolah potensi uap panas bumi dari perut bumi
- Pembangkitan Listrik: Membangun dan mengoperasikan PLTP untuk mengubah panas bumi menjadi energi listrik bersih
- Pemasaran & Penjualan: Mendistribusikan energi listrik ke sistem jaringan transmisi interkoneksi serta melakukan perniagaan uap panas bumi
Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP)
Geo Dipa mengelola beberapa lapangan panas bumi strategis di Indonesia:
- WKP yang Sudah Beroperasi: WKP Dieng (Jawa Tengah) dan WKP Patuha (Jawa Barat)
- WKP yang Sedang Dikembangkan / Proyek Masa Depan: Candi Umbul Telomoyo (Jawa Tengah), Arjuno Welirang (Jawa Timur), Wae Sano dan Nage (Nusa Tenggara Timur), Bittuang (Sulawesi Selatan), serta Jailolo (Maluku Utara)
